KATA
PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan yang maha
Esa yang telah berkenan memelihara dan membimbing kita sehinga dapat
menyelesaikan makalah ini walaupun masih dalam bentuk sederhana
Makalah ini di susun dalam tujuan untuk membantu
mahasiswa dalam mempelajari atau memahami bagai mana psikologi kepribadian
itu.dan tak lupa pula saya mengucapkan terimah kasih banyak kepada dosen
pembimbing yang telah sabar memberikan arahan dan ilmunya sehingah makala ini
dapat di selesaikan.
BAB I
PEMBAHASAN
A. Pisikoanalisis
Ø Pengertian
dari Pisikoanalisis
Psikoanalisis
adalah
cabang ilmu yang dikembangkan oleh Sigmund Freud dan para pengikutnya, sebagai
studi fungsi dan perilaku psikologis manusia. Seorang ahli neorologi yang
berhasi menemukan cara-cara pengobatan yang efektif bagi pasien-pasien yang
mengalami ganguan-ganguan neurotic dan hysteria melalui teknik hipnotis dengan
katarsis, yang dia pelajari dari senior sekaligus sahabatnya Dr. Josef Breuer.
Bersama-sama dengan Breuer Freud menangani pasien-pasien dengan gangguan
hysteria yang menjadi bahan bagi tulisanya: “studies in hysteria” . kerja sama
dengan jean Martin Charcot, dokter
syaraf terkenal di prancis dia banyak mengali tentang gejala-gejala sikomatik
dari pasien-pasien yang mengalami ganguan seksual.
Psikoanalisis memiliki tiga peran, yaitu suatu metode penelitian dari
pikiran, suatu ilmu pengetahuan yang sistematis mengenai prilaku manusia, dan
suatu metode perlakuan terhadap penyakit psikologis atau emosional. Aliran psikoanalisis,
ferud merujuk pada suatu jenis perlakuan dimana orang yang dianalisis
mengungkapkan pemikiran secara verbal, termasuk asosiasi bebas, khayalan dan
mimpi yang menjadi sumber seorang penganalisis merumuskan konflik tidak sadar
yang menyebabkan gejala yang dirasakan dan permasalahan karter pada pasien,
kemudian meginterpretasikannya bagi pasien untuk menghasilkan pemahaman diri
untuk pemecahan masalah.
Ø Tokoh
dalam teori Pisikoanalisis
Dr. Josef Breuer. Bersama-sama dengan Breuer Freud
menangani pasien-pasien dengan gangguan hysteria yang menjadi bahan bagi
tulisanya: “studies in hysteria” . kerja sama dengan jean Martin Charcot, dokter syaraf terkenal di prancis
dia banyak mengali tentang gejala-gejala sikomatik dari pasien-pasien yang
mengalami ganguan seksual.
Aliran
psikoanalisis, ferud merujuk pada suatu jenis perlakuan dimana orang yang
dianalisis mengungkapkan pemikiran secara verbal, termasuk asosiasi bebas,
khayalan dan mimpi yang menjadi sumber seorang penganalisis merumuskan konflik tidak
sadar yang menyebabkan gejala yang dirasakan dan permasalahan karter pada
pasien, kemudian meginterpretasikannya bagi pasien untuk menghasilkan pemahaman
diri untuk pemecahan masalah.
Ø Teori
menurut Alfred Adler
Alfred Adler (1870-1937) merupakan seorang
psikoanalis pertama yang melihat manusia sebagai mahluk social, dan membangun
teori pada pentingnya superioritas dan kebutuhan untuk berhubungan dengan orang
lain sebagai hal yang utama.
B. BEHAVIORISTIK
Ø Pengertian
dari behaviorisme
Behaviorisme
merupakan salah aliran psikologi yang memandang individu hanya dari sisi
fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek – aspek mental. Dengan kata lain,
behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat dan perasaan
individu dalam suatu belajar. Perubahan terjadi melalui rangsangan (stimlan
yang menimbulkan hubungan perilaku reaktif (respon) berdasarkan hukum-hukum
mekanistik. Stimulus tidak lain adalah lingkugan belajar anak, baik yang
internal maupun eksternal yang menjadi penyebab belajar. Sedangkan respons
adalah akibat atau dampak, berupa reaksi fisik terhadap stimulans. Belajar
berarti penguatan ikatan, asosiasi, sifat dan kecenderungan perilaku S-R
(stimulus – respon). Respon atau perilaku tertentu dengan
menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan
semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
Ø Tokoh
dalam teori behavioris
1. Edward
Lee Thorndike (1874 - 1949)
Menurut
Thorndike, belajar merupakan proses interaksi antara stimulus dan respon.
Stimulus adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti
pikiran, perasaan atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera.
Respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, juga dapat
berupa pikiran, perasaan, gerakan atau tindakan. Teori Thorndike ini sering
disebut teori koneksionisme.
2. John
Watson (1878 - 1958)
Watson
adalah seorang behavioris murni, kajiannya tentang belajar disejajarkan dengan
ilmu-ilmu lain seperi Fisika atau Biologi yang sangat berorientasi pada
pengalaman empirik semata, yaitu sejauh mana dapat diamati dan diukur.
Menurut
Watson, belajar merupakan proses interaksi antara stimulus dan respon, namun
stimulus dan respon tersebut harus dapat diamati dan diukur. Jadi
perubahan-perubahan mental dalam diri seseorang selama proses belajar, tidak
perlu diperhitungkan karena tidak dapat diamati.
Ø Teori
behavioris
Teori
behavioristik merupakan teori yang menggunakan hubungan stimulus-responnya dan
menganggap orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Teori ini
mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk
melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.
Diantara
tokoh-tokoh aliran behavioristik, teori Skinnerlah yang paling besar
pengaruhnya terhadap perkembangan teori belajar behavioristik. Program-program
pembelajaran seperti Teaching Machine, Pembelajaran berprogram, modul dan
program-program pembelajaran lain yang berpijak pada konsep hubungan
stimulus-respons, merupakan program pembelajaran yang menerapkan teori belajar
yang dikemukakan Skiner.
Teori
behavioristik tidak mampu menjelaskan situasi belajar yang kompleks, sebab
banyak variabel atau hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan dan/atau belajar
yang dapat diubah menjadi sekedar hubungan stimulus dan respon. Pandangan
behavioristik juga kurang dapat menjelaskan adanya variasi tingkat emosi
pebelajar, walaupun mereka memiliki pengalaman penguatan yang sama.
Penerapan
teori behaviroristik yang salah dalam suatu situasi pembelajaran mengakibatkan
terjadinya proses pembelajaran yang sangat tidak menyenangkan bagi siswa yaitu
guru sebagai central, bersikap otoriter, komunikasi berlangsung satu arah, guru
melatih dan menentukan apa yang harus dipelajari murid.
Metode
behavioristik ini sesuai untuk perolehan kemampaun yang membuthkan praktek dan
pembiasaan juga sesuai diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih
membutuhkan dominansi peran orang dewasa.
C. HUMANISTIK
Ø Pengertian
dari humanistik
Humanistik tertuju pada masalah bagaimana tiap individu
dipengaruhi dan dan dibimbing oleh maksud-maksud pribadi yang mereka hubungkan
kepada pengalaman-pengalaman mereka sendiri. Pengertian humanistik
yang beragam membuat batasan-batasan aplikasinya dalam dunia pendidikan
mengundang berbagai macam arti pula. Sehingga perlu adanya satu pengertian yang
disepakati mengenai kata humanistik dala pendidikan. Dalam artikel “What is
Humanistik Education”, Krischenbaum menyatakan bahwa sekolah, kelas, atau guru
dapat dikatakan bersifat humanistik dalam beberapa kriteria. Hal ini
menunjukkan bahwa ada beberapa tipe pendekatan humanistik dalam pendidikan. Ide
mengenai pendekatan-pendekatan ini terangkum dalam psikologi humanistik.
Ø Tokoh
dalam teori Humanistik
o
Arthur Combs (1912-1999)
Bersama dengan
Donald Snygg (1904-1967) mereka mencurahkan banyak perhatian pada dunia
pendidikan. Meaning (makna atau arti) adalah konsep dasar yang sering
digunakan. Belajar terjadi bila mempunyai arti bagi individu. Guru tidak bisa
memaksakan materi yang tidak disukai atau tidak relevan dengan kehidupan
mereka. Anak tidak bisa matematika atau sejarah bukan karena bodoh tetapi
karena mereka enggan dan terpaksa dan merasa sebenarnya tidak ada alasan penting
mereka harus mempelajarinya. Perilaku buruk itu sebenarnya tak lain hanyalah
dati ketidakmampuan seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak akan
memberikan kepuasan baginya.
Ø Teori
behavioris menurut Carl Ransom Rogers (1902-1987)
Disini dia lebih senang menggunakan istilah
klien terhadap orang yang berkonsultasi dibandingkan memakai istilah pasien.
Rogers membedakan dua tipe belajar, yaitu:
a.
Kognitif (kebermaknaan)
b.
Experiential ( pengalaman atau
signifikansi)
Kesimpulan dari Teori Humanistik
Carl Rogers
1.
Teori Rogers disebut humanis karena
teori ini percaya bahwa setiap individu adalah positif, serta menolak teori
Freud dan behaviorisme.
2.
Asumsi dasar teori Rogers adalah
kecenderungan formatif dan kecenderungan aktualisasi.
3.
Diri (self) adalah terbentuk dari
pengalaman mulai dari bayi, di mana diri terdiri dari 2 subsistem yaitu konsep
diri dan diri ideal.
4.
Kebutuhan individu ada 4 yaitu : (1)
pemeliharaan, (2) peningkatan diri, (3) penghargaan positif (positive regard),
dan (4) Penghargaan diri yang positif (positive self-regard)
5.
Stagnasi psikis terjadi bila terjadi
karena pengalaman dan konsep diri yang tidak konsisten dan untuk menghindarinya
adalah pertahanan (1) distorsi dan (2) penyangkalan. Jika gagal dalam
menerapkan pertahanan tersebut konsep diri akan hancur dan menyebabkan
psikotik.
6.
Dalam terapi, terapis hanya menolong dan
mengarahkan klien dan yang melakukan perubahan adalah klien itu sendiri.
D. SIFAT / TRAIT
Ø Pengertian
dari trait
Yang
dimaksud dengan trait adalah suatu ciri yang khas bagi seseorang dalam
berpikir, berperasaan, dan berprilaku, seperti intelegensi (berpikir), iba hati
(berperasaan), dan agresif (berprilaku). Ciri itu dianggap sebagai suatu
dimensi kepribadian, yang masing-masing membentuk suatu kontinum atau skala
yang terentang dari sangat tinggi sampai sangat rendah.
Teori
Trait-Factor adalah pandangan yang mengatakan bahwa kepsibadian seseorang dapat
dilukiskan dengan mengidentifikasikan jumlah ciri, sejauh tampak dari hasil
testing psikologis yang mengukur masing-masing dimensi kepribadian itu.
Konseling Trait-Factor berpegang pada pandangan yang sama dan menggunakan
tes-tes psikologis untuk menanalisis atau mendiagnosis seseorang mengenai
ciri-ciri dimensi/aspek kepribadian tertentu, yang diketahui mempunyai
relevansi terhadap keberhasilan atau kegagalan seseorang dalam jabatan dan
mengikuti suatu program studi. Dan juga Istilah konseling trait-factor dapat
dideskripsikan adalah corak konseling yang menekankan pemahaman diri melalui
testing psikologis dan penerapan pemahaman itu dalam memecahkan baraneka
problem yang dihadapi, terutama yang menyangkut pilihan program studi/bidang
pekerjaan.
Ø Tokoh
dalam teori trait
1. McCrae dan Costa yakin bahwa selama
periode dari usia 18 sampai 30 tahun, orang sedang berada dalam proses
mengadopsi konfigurasi trait yang stabil, konfigurasi yang tetap stabil setelah
usia 30 tahun (Feist, 2006).
2. Raymond B. Cattell dan Hans J.
Eysenck. Allport mengenalkan istilah central trait, yaitu kumpulan kata-kata
yang biasanya digunakan oleh orang untuk mendeskripsikan individu. Central
trait dipercaya sebagai jendela menuju kepribadian seseorang.
3. Menurut Allport, unit dasar dari
kepribadian adalah trait yang keberadaannya bersumber pada sistem saraf.
Allport percaya bahwa trait menyatukan dan mengintegrasikan perilaku seseorang
dengan mengakibatkan seseorang melakukan pendekatan yang serupa (baik tujuan
ataupun rencananya) terhadap situasi-situasi yang berbeda.
Ø Teori
behavioris
Teori
sifat ini dikenal sebagai teori-teori tipe (type theories) yang menekankan
aspek kepribadian yang bersifat relatif stabil atau menetap. Tepatnya,
teori-teori ini menyatakan bahwa manusia memiliki sifat atau sifat-sifat
tertentu, yakni pola kecenderungan untuk bertingkah laku dengan cara tertentu.
Sifat-sifat yang stabil ini menyebabkan manusia bertingkah laku relatif tetap
dari situasi ke situasi.
Termasuk
dalam teori-teori sifat berikutnya adalah teori-teori dari Willim Sheldom.
Teori Sheldom sering digolongkan sebagai teori topologi. Meskipun demikian ia
sebenarnya menolak pengotakkan menurut tipe ini. Menurutnya, manusia tidak
dapat digolongkan dalam tipe ini atau tipe itu. Akan tetapi, setidak-tidaknya
seseorang memiliki tiga komponen fisik yang berbeda menurut derajat dan
tingkatannya masing-masing. Kombinasi ketiga komponen ini menimbulkan berbagai
kemungkinan tipe fisik yang isebutnya sebagai somatotipe.
Menurut
Sheldom ada tiga komponen atau dimensi temperamental adalah sebagai berikut :
1. Viscerotonia. Individu yang memiliki
nilai viscerotonia yang tinggi, memiliki sifat-sifat, antara lain suka makan
enak, pengejar kenikmatan, tenang toleran, lamban, santai, pandai bergaul.
2. Somatotonia. Individu dengan sifat
somatotonia yang tinggi memiliki sifat-sifat seperti berpetualang dan berani
mengambil resiko yang tinggi, membutuhkan aktivitas fisik yang menantang,
agresif, kurang peka dengan perasaan orang lain, cenderung menguasai dan
membuat gaduh.
Cerebretonia. Pribadi yang mempunyai nilai
cerebretonia dikatakan bersifat tertutup dan senang menyendiri, tidak menyukai
keramaian dan takut kepada orang lain, serta memiliki kesadaran diri yang
tinggi. Bila sedang di rundung masalah, Ia memiliki reaksi yang cepat dan sulit
tidur.
DAFTAR
PUSTAKA
o baginyahttp://www.zonependidikan.co.cc/2010/05/konseling-trait-factor.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar